PENERAPAN INSOURCING, OUTSOURCING DAN CO SOURCING DALAM PENGELOLAAN SISTEM INFORMASI DI PERUSAHAAN

TUGAS MATA KULIAH

SISTEM INFORMASI MANAJEMEN

 

 

 

PENERAPAN INSOURCING, OUTSOURCING  DAN CO SOURCING DALAM PENGELOLAAN SISTEM INFORMASI

DI PERUSAHAAN

 

 

 

 

Oleh:

 

Bobit Kowanus Utomo

NIM.P056132332

Angkatan E-48

Dosen:

 

Prof. Ir. Arif Imam Suroso, MSc

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PROGRAM PASCASARJANA MANAJEMEN DAN BISNIS

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2014


PENERAPAN INSOURCING, OUTSOURCING  DAN CO SOURCING DALAM PENGELOLAAN SISTEM INFORMASI

DI PERUSAHAAN

 

Disusun Oleh:

 

Bobit Kowanus Utomo

Angkatan E-48

Program Pascasarjana Manajemen dan Bisnis

Institut Pertanian Bogor

 

 

 

ABSTRAK

 

Penerapan sistem informasi dalam perusahaan dibuat untuk memberikan informasi yang bersifat holistik dari sudut padang perusahaan sehingga dapat dijadikan sebagai salah satu sumber daya perusahaan yang dapat digunakan  secara langsung oleh jajaran eksekutif dan karyawan. Pembangunan sistem informasi pada umumnya dapat dilakukan dengan cara outsourcing, insourcing maupun co sourcing. Masing-masing pendekatan ini mempunyai keunggulan dan kelemahan.

Adapun tujuan dan manfaat dari makalah ini adalah agar manajemen perusahaan khususnya dan pembaca pada umumnya dapat mengetahui perbedaan dari masing-masing metode pengembangan sistem informasi melalui Insourcing, Outsourcing dan Cosourcing pada perusahaan baik dari segi kelebihan maupun kelemahannya.

Keputusan yang diambil dalam penggunaan salah satu pendekatan untuk mengembangkan sistem informasi di suatu organisasi atau perusahaan bisnis yaitu outsourcing ataupun insourcing dan cosourcing tergantung pada kondisi perusahaan dengan memperhatikan beberapa aspek yaitu ketersediaan sumber daya manusia, ketersediaan dana dan kompleksitas sistem informasi yang dibutuhkan.Terdapat kelebihan dan kekurangan pada sistem insourcing dan outsourcing dalam pengelolaan sistem informasi di perusahaan. Pemilihan sistem yang terbaik, baik itu insorcing atau outsourcing harus disesuaikan dengan kondisi perusahaan.

 

 

Kata kunci : Penerapan insourcing, outsourcing dan cosourcing, Sistem Informasi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah mengaruniakan akal dan pengetahuan kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul “Penerapan Insourcing, Outsourcing dan Cosourcing dalam Pengelolaam Sistem Informasi Di Perusahaan”. Tugas makalah ini merupakan salah satu syarat penunjang kelulusan pada mata kuliah Sistem Informasi Manajemen, Program Pascasarjana Manajemen dan Bisnis, Institut Pertanian Bogor.

Penyusunan makalah ini dilakukan dengan tujuan mengetahui dan mempelajari bagaimana penerapan insourcing, outsourcing dan cosourcing melalui sistem informasi, serta menganalisa manfaat dan kerugian yang akan diperoleh dari penerapan sistem ini terhadap proses dan pengembangannya diperusahaan.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu diharapkan adanya saran dan kritik yang membangun dari para pembaca. Diharapkan hasil pembahasan dalam makalah ini dapat berguna bagi rekan-rekan yang ingin mengetahui tentang penerapan insourcing, outsourcing dan cosourcing di perusahaan.

 

Jakarta,   Februari 2014

 

 

 

Penulis

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pada Era Modern yang penuh dengan kompetitif seperti saat ini, suatu organisasi ataupun perusahaan dituntut untuk mempunyai kinerja yang optimal. Tuntutan tersebut dapat dipenuhi dengan peningkatan manajemen organisasi atau perusahaan, termasuk di dalamnya proses inovasi yang berkesinambungan dengan didukung oleh penggunaan teknologi yang tepat. Salah satu bentuk penerapan teknologi adalah pengelolaan sistem informasi dalam aktivitas suatu organisasi atau perusahaan.

Penerapan sistem informasi dalam perusahaan dibuat untuk memberikan informasi yang bersifat holistik dari sudut padang perusahaan sehingga dapat dijadikan sebagai salah satu sumber daya perusahaan yang dapat digunakan  secara langsung oleh jajaran eksekutif dan karyawan.  Dengan dukungan sistem informasi yang handal diharapkan dapat memenuhi harapan akan peningkatkan komunikasi,  dapat melakukan identifikasi trend historis lebih tepat, peningkatan efisiensi dan efektivitas perusahaan, rentang pengawasan yang lebih baik dan dukungan lebih besar untuk pengambilan keputusan manajemen dalam perusahaan.

Untuk memenuhi terhadap sistem informasi perusahaan yang baik, termasuk di antaranya dengan memperhatikan aliran data dan informasi yang berkesinambungan, perusahaan dapat memenuhi kebutuhan aplikasi sistem informasi dengan beberapa alternatif. Dalam mengembangkan sistem informasi tersebut, perusahaan harus memperhatikan dengan seksama aspek pembiayaan dan sumber daya manusia yang dimilikinya.

Pembangunan sistem informasi pada umumnya dapat dilakukan dengan cara outsourcing, insourcing maupun co sourcing. Masing-masing pendekatan ini mempunyai keunggulan dan kelemahan. Berikut akan dibahas mengenai masing-masing pendekatan tersebut dalam kaitannya dengan pembangunan sistem informasi dalam suatu organisasi atau perusahaan.

 

1.2 Perumusan Masalah

Makalah yang berjudul  “Penerapan Insourcing, Outsourcing dan Cosourcing dalam Pengelolaam Sistem Informasi Di Perusahaan” ini akan membahas mengenai penerapan sistem informasi dengan beberapa metode diantaranya insourcing, outsourcing dan Cosourcing dalam pengembangannya. Selanjutnya, akan dibahas mengenai penyebab mengapa perusahaan lebih memilih menggunakan outsourcing dibandingkan pendekatan lainnya, mengenai keunggulan serta kelemahan outsourcing dan beberapa kunci sukses pelaksanaan outsourcing.

 

1.3 Tujuan dan Manfaat

Adapun tujuan dan manfaat dari makalah ini adalah agar manajemen perusahaan khususnya dan pembaca pada umumnya dapat mengetahui perbedaan dari masing-masing metode pengembangan sistem informasi melalui Insourcing, Outsourcing dan Cosourcing pada perusahaan baik dari segi kelebihan maupun kelemahannya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

Sistem Informasi

Definisi sistem informasi menurut John F. Nash dan Martin B. Roberts adalah “Sistem informasi adalah suatu kombinasi dari orang-orang, fasilitas, teknologi, media, prosedur dan pengendalian yang ditujukan untuk mendapatkan jalur komunikasi penting, memproses tipe transaksi rutin tertentu, memberi sinyal kepada manajemen dan yang lainnya terhadap kejadian-kejadian internal dan eksternal yang penting dan menyediakan suatu dasar untuk pengambilan keputusan yang cerdik”

Menurut O’Brien, komponen dari suatu sistem informasi dapat digambarkan sebagai berikut:

Gambar 1. Komponen “Information System Resources”

Sumber: JA O’Brian

Komponen sistem informasi adalah kombinasi dari integrasi yang terdiri dari unsur:

  • People Resources
  • Hardware Resources
  • Software Resources
  • Networks Resources
  • Data resources

Penerapan Sistem Informasi Perusahaan

Penerapan sistem informasi dalam dunia bisnis tidak dapat dihindarkan lagi. Masing-masing perusahaan berlomba untuk mempunyai sistem informasi canggih yang dapat mensupport dalam operasional manajemen. Agar penerapan sistem informasi dapat efisien dan efektif, seyogyanya memperhatikan framework sistem informasi untuk dunia bisnis profesional seperti yang dikemukakan oleh O’Brian yaitu:

1. Foundation Concept

2. Business Applications

3. Development Process

4. Management Challenges

5. Information Technologies

 

Gambar 2. Framework for Business Profesional

Sumber: O’ Brian dan Marakas

Sistem informasi pada perusahaan diharapkan mampu mendukung strategi perusahaan dalam peningkatan keunggulan perusahaan dalam bidan core competence nya, mendukung efiseiensi dan efektifitas manajemen perusahaan, menjadi sumber yang akurat bagi pihak manajemen dalam mengambi keputusan yang bersifat strategik dan lain sebagainya.

Sebelum menentukan pendekatan yang tepat untuk pengembangan dan pembangunan sistem informasi, perusahaan harus memahi terlebih dahulu mengenai siklus dalam pengembangan sistem informasi. O’ Brian dan Marakas mengemukakan developing insformation system solution adalah sebagai berikut:

  1. Investigasi
  2. Analyze
  3. Design
  4. Implement
  5. Maintain

Gambar 3. Proses atau Siklus Pengembangan Sistem Informasi

Sumber: O Brian dan Marakas

Pengembangan Sistem Informasi

Dalam pengembangan sistem informasi pada suatu perusahaan atau organisasi dapat dilakukan dalam tiga (3) cara, yaitu sebagai berikut:

1. Insourcing

2. Outsourcing

3. Co Sourcing

 

Pengembangan Outsourcing

Beberapa bidang yang dapat dilakukan outsourcing oleh perusahaan antara lain yaitu pemeliharaan dan perbaikan teknologi informasi maupun sistem informasi, pelatihan karyawan mengenai kemampuan TI dan SI, pengembangan aplikasi software maupun hardware, konsultasi, pengelolaan sumber data, servis server, jaringan administrasi, servis desktop, layanan terhadap end user, dan outsourcing terhadap total teknologi informasi perusahaan. Outsourcing dapat dilakukan dalam beberapa model yaitu perusahaan dapat membeli aplikasi software yang sudah jadi, membeli aplikasi software dan melakukan modifikasi sesuai kebutuhan oleh vendor, membeli aplikasi software yang sudah jadi dan melakukan modifikasi sendiri, dan mengembangkan sistem atau software yang belum pernah ada sebelumnya disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan. Banyak perusahaan dan organisasi memilih melakukan pengembangan sistem informasi dengan cara outsourcing dibandingkan cara lainnya. Pemilihan tersebut dilandasi beberapa pertimbangan yang melihat bahwa outsoursing mempunyai lebih banyak keunggulan dibandingkan dengan kelemahan yang dimilikinya.

Keunggulan outsourcing dibandingkan pendekatan lain yaitu:

  1. Perusahaan tidak perlu melakukan investasi yang mahal di bidang teknologi untuk mengembangkan sistem informasi perusahaannya.
  2. Perusahaan dapat berkonsentrasi untuk menjalankan core bisnisnya, bersamaan waktunya dengan proses instalasi sistem informasi.
  3. Jaminan mutu kualitas dari hasil aplikasi sistem informasi yang dibangun oleh vendor yang berpengalaman.
  4. Aplikasi sistem informasi yang dibangun dapat sesuai dengan harapan manajemen perusahaan, bahkan dapat menjadi competitive advantage dibandingkan dengan perusahaan lain dengan kemampuan vendor untuk membangun sistem dengan teknologi terbaru disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan.

Kondisi tersebut diperkuat dengan alasan yang dikemukakan oleh O’Brian (2007) mengenai 10 pertimbangan alasan perusahaan memilih outsourcing sebagai berikut:

  1. Mengurangi dan mengendalikan biaya operasioanal.
  2. Meningkatkan fokus perusahaan pada kegiatan utama usahanya tanpa dibebani permasalahan pengembangan sistem informasi.
  3. Mendapatkan akses terhadap sistem informasi premium atau kelas dunia bagi penerapan sistem informasi di perusahaannya.
  4. Sumber daya manusia dalam perusahaan dapat lebih fokus melakukan pekerjaan pada kegiatan utama perusahaan tanpa dibebani kegiatan pengembangan sistem informasi.
  5. Memberi jalan keluar terhadap permasalahan  ketidak tersediaan sumber daya dari perusahaan yang ahli dalam pengembangan sistem informasi, sehingga dapat mengurangi resiko salah penerapan sistem informasi.
  6. Menunjang akselerasi tujuan perusahaan untuk mempercepat mendapatkan keuntungan/ benefit dengan penerapan sistem informasi yang sesuai.
  7. Menghindarkan dari kendali internal mengenai tidak berfungsinya sistem informasi karena penerapan sistem informasi yang salah atau gagal.
  8. Peningkatan benefit perusahaan akan menyebabkan perusahaan dapat meningkatkan pertumbuhan modal usaha.
  9. Berbagi resiko terhadap implementasi sistem informasi antara perusahaan dan vendor. Kesalahan implementasi tidak ditanggung penuh oleh perusahaan saja, oleh karena itu dibutuhkan kerjasama yang baik dalam proses perencanaan sistem informasi antara perusahaan dan vendor.
  10. Perusahaan dapat mengontrol pemasukan dan pengeluaran kas dengan bantuan sistem informasi yang tepat.

Tidak dipungkiri bahwa outsourcing juga mempunyai beberapa kelemahan dalam pelaksanaannya. Kelemahan outsourcing antara lain:

  1. Pelanggaran kontrak kerja oleh vendor lebih banyak akan mengakibatkan kerugian bagi perusahaan.
  2. Perusahaan akan kehilangan kontrol terhadap aplikasi sistem informasi yang dibangun oleh vendor apabila terjadi ganguan pada sistem informasi yang sangat penting bagi perusahaan.
  3. Perusahaan lain dapat meniru sistem informasi yang dikembangkan oleh vendor yang sama.

Untuk mengurangi resiko perusahaan yang diakibatkan karena vendor yang tidak bonafide dan tidak mempunyai itikad baik,nO Brian (2007) menyarankan agar perusahaan memperhatikan 10 faktor dalam memilih vendor sistem informasi yaitu sebagai berikut:

  1. Komitmen terhadap kualitas.
  2. Harga yang compatible
  3. Reputasi vendor yang baik akan mempengarui perusahaan dalam memilih pengembang.
  4. Fleksibilitas syarat kontrak
  5. Lingkup sumber daya vendor yang ahli dalam bidang IT dan sistem informasi.
  6. Kemampuan menambahan nilai lebih/ value yang diterima oleh perusahaan dari penerapan sistem informasi yang dapat diterapkan oleh vendor.
  7. Kesesuaian atau kesepahaman terhadap nilai-nilai kultural antara perusahaan dan vendor yang hendak mengembangkan sistem informasi perusahaan.
  8. Hubungan yang berkelanjutan
  9. Lokasi menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan vendor

Dalam bukunya O’Brian (2007) juga memberikan tips-tips terhadap 10 faktor yang harus diperhatikan untuk mencapai kesuksesan pelaksanaan outsourcing, yaitu sebagai berikut:

  1. Memahami tujuan perusahaan dan sasaran yang hendak dicapainya.
  2. Pengalihdayaan tersebut mempunyai visi dan rencana strategis yang jelas
  3. Pemilihan vendor yang tepat.
  4. Hubungan yang baik antara vendor dan perusahaan tidak saja pada saat proyek pengembangan tetapi juga untuk selanjutnya, hal ini berkaitan dengan maintanance sistem informasinya.
  5. Kontrak kerja antara vendor dan perusahaan yang terstruktur
  6. Keterbukaan informasi antara vendor dan perusahaan, terutama dalam hal perencanaan sistem informasi.
  7. Dukungan dan keterlibatan dari jajaran eksekutif perusahaan dalam pengembangan sistem informasi.
  8. Memperhatikan terhadap isu atau masalah yang berkembang pada saat proses pembuatan SI
  9. Ketersediaan pendanaan yang dialokasikan khusus untuk pengembangan sistem informasi
  10. Menggunakan tenaga ahli yang berpengalaman untuk mengembangkan sistem informasi perusahaan

 

 

 

 

BAB III

PEMBAHASAN

 

3.1 Pengertian Sistem Informasi 

Sistem informasi merupakan sistem yang menyediakan informasi bagi semua anggota organisasi kapan saja diperlukan. Sistem ini dengan bantuan teknologi informasi dapat mengambil, menyimpan, mengubah, mengolah dan mengkomunikasikan data menjadi informasi  yang siap digunakan untuk pengambilan keputusan.

Menurut O’Brien dan Marakas (2011), pengembangan sistem informasi merupakan suatu pendekatan sistem untuk penyelesaian masalah yang diterapkan untuk pengembangan solusi sistem informasi terhadap masalah bisnis. Pendekatan sistem ini dapat digunakan untuk mengembangkan aplikasi dan sistem e-business yang dapat memenuhi kebutuhan bisnis perusahaan, karyawan, dan pihak-pihak lain yang berkepentingan terhadap perusahaan (stakeholder).

Semua sistem informasi mempunyai tiga kegiatan utama, yaitu menerima data sebagai masukan (input), kemudian memprosesnya dengan melakukan perhitungan, penggabungan unsur data, pemutakhiran dan lain-lain, sampai pada akhirnya memperoleh informasi sebagai keluaran (output). Sistem informasi manajemen dengan berbagai cara mampu meningkatkan produktivitas, antara lain : dengan kemampuan melaksanakan tugas rutin seperti penyajian dokumen dengan efisien, mampu memberikan layanan bagi organisasi intern dan ekstern, serta mampu meningkatkan kemampuan manajer untuk mengatasi masalah-masalah yang tidak terduga.

 

3.2    Peranan Sistem Informasi 

Sistem informasi sangat berperan untuk memadukan semua unsur-unsur yang saling berhubungan sehingga sistem informasi tersebut harus dipandang sebagai suatu sistem tunggal, namun cukup kompleks sehingga perlu diuraikan menjadi subsistem-subsistem untuk perencanaan dan pengendalian pengembangannya serta untuk mengendalikan operasinya.

Pemanfaatan teknologi informasi manjadi suatu keharusan yang tidak dapat dihindarkan oleh setiap perusahaan yang ingin menempatkan dirinya pada posisi paling depan dalam suatu industri.  Terkait dengan hal ini, pengelolaan sumber daya informasi memegang peranan yang sangat penting untuk menunjang suksesnya sebuah bisnis. Dalam sebuah perusahaan, pengelolaan sumber daya informasi biasanya disebut dengan Sistem Informasi Sumber Daya Informasi (Information Resources Information System).

Sistem ini merupakan bagian dari sistem informasi yang bertanggung jawab untuk mengidentifikasi kebutuhan informasi, memproses, serta menyediakan informasi dalam format tepat yang akan dipergunakan dalam proses pengambilan keputusan.  Proses mengidentifikasi berarti sistem harus dapat menentukan masalah yang dihadapi perusahaan, keputusan yang akan dibuat oleh oleh para pengambil keputusan dan informasi apa yang harus disediakan untuk memecahkan masalah tersebut.  Proses ini harus dapat menentukan data yang dibutuhkan, dimana, bagaimana, dan dengan metode apa data tersebut diperoleh serta bagaimana menentukan proses dan metode yang paling tepat yang akan dipergunakan dan berapa lama proses harus diselesaikan.

Faktor yang paling penting didalam pengelolaan sumberdaya informasi adalah bagaimana mengembangkan Sistem Informasi Sumber daya Informasi yang akan dipergunakan, hal ini berarti kita menentukan bagaimana bentuk sistem yang dibutuhkan, dalam arti kata kebutuhann akan perangkat keras, perangkat lunak dan pelaksana serta SOP (Standard Operating Procedures) yang akan dipergunakan.

Ada berbagai pendekatan yang dapat dipergunakan dalam proses pengembangan sistem informasi ini, diantaranya :

  • System Development Life Cycle (SDLC)

Digunakan untuk menjelaskan siklus kehidupan suatu sistem informasi. Proses pengembangan suatu sistem informasi dimulai dari proses pembuatan rencana kerja yang akan dilakukan, melakukan analisis terhadap rencana sistem yang akan dibuat, mendesain sistem, dan mengimplementasikan sistem yang telah disusun serta melakukan evaluasi terhadap jalannya sistem yang telah disusun

  • Prototyping

Sistem dapat dikembangkan lebih sempurna karena adanya hubungan kerjasama yang erat antara analis dengan pemakai sedangkan kelemahan teknik ini adalah tidak begitu mudah untuk dilaksanakan pada sistem yang relatif besar.

  • Rapid Application Developmen

Pendekatan ini memerlukan keikutsertaan user dalam proses desain sehingga mudah untuk melakukan implementasi. Kelemahannya, sistem mungkin terlalu sulit untuk dibuat dalam waktu yang singkat yang pada akhirnya akan mengakibatkan kualitas sistem yang dihasilkan menjadi rendah.

  • Object Oriented Analysis and Development

Integrasi data dan pemrosesan selama dalam proses desain sistem akan menghasilkan sistem yang memiliki kualitas yang lebih baik serta mudah untuk dimodifikasi. Namun, metode ini sulit untuk mendidik analis dan programmer sistem dengan menggunakan pendekatan object oriented serta penggunaan modul yang sangat terbatas.

Dalam mengembangkan sebuah sistem informasi, permasalahan dan tantangan yang sering muncul adalah siapa yang akan melaksanakan proses pengembangan tersebut. Di sini, pihak perusahaan dihadapkan pada beberapa alternatif yaitu :

  1. Merancang/membuat sendiri sistem informasi yang dibutuhkan dan menentukan pelaksana sistem informasi.   Faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam alternatif ini adalah :
  • Terbatasnya pelaksana sistem informasi
  • Kemampuan dan penguasaan pelaksana sistem informasi
  • Beban kerja pelaksana sistem informasi
  • Masalah yang mungkin akan timbul dengan kinerja pelaksana sistem informasi.
  • Identifikasi kebutuhan, pemilihan, dan perencanaan sistem
  • Analis sistem
  • Mengembangkan permohonan suatu proposal
  • Evaluasi proposal
  • Pemilihan vendor
  • Masalah biaya dan kualitas sistem informasi yang akan dipergunakan
  • Masalah kinerja sistem informasi
  • Tekanan dari para vendor yang menawarkan produk mereka
  • Penyederhanaan, perampingan, dan rekayasa sistem informasi
  • Masalah keuangan perusahaan
  • Budaya perusahaan
  • Tekanan dari pelaksana sistem informasi.
  1. Perusahaan membeli paket sistem informasi yang sudah jadi.   Pihak perusahaan cukup membeli beberapa paket sistem aplikasi yang siap pakai, karena paket aplikasi tersebut dibuat oleh vendor yang memiliki spesialisasi dibidang sistem aplikasi.  Adapun tahapan yang harus dilakukan dengan alternatif ini adalah :
  2. Meminta orang lain untuk melaksanakan proses pengembangan sisteminformasi (Outsourcing) termasuk pelaksana sistem informasi. Pihak perusahaan menyerahkan tugas pengembangan dan pelaksanaan serta maintanance sistem kepada pihak ketiga.  Beberapa faktor yang menyebabkan perlunya outsourcing diantaranya :
  • End User Development

Faktor yang harus diperhatikan dalam pemilihan alternatif ini adalah kemampuan yang harus dimiliki pelaksana sistem informasi. Pelaksana harus mengembangkan sendiri aplikasi yang mereka butuhkan seperti menggunakan Microsoft Excell dan Microsoft Access. Manfaat yang dapat diperoleh dari alternatif ini adalah :

    • Penghematan biaya
    • Waktu pengembangan sistem informasi yang singkat
    • Mudah untuk melakukan modifikasi
    • Tanggung jawab pelaksana sistem informasi yang lebih besar
    • Mengurangi beban kerja pelaksana sistem informasi.

Masalah mengenai hardware, sofware, dan maintenance sistem merupakan tanggung jawab pihak vendor.  Pilihan dilakukannya outsourcing oleh suatu perusahaan pada intinya disebabkan semakin meningkatnya kegiatan bisnis suatu perusahaan pada satu sisi dan adanya keterbatasan SDM internal dari segi kuantitas maupun knowledge untuk mengatasi secara baik (efektif dan efisien) meningkatnya kegiatan bisnis tersebut.

Beberapa permasalahan yang sering timbul dengan dipilihnya outsourcing adalah perusahaan menghadapi keresahan terhadap karyawan, khususnya adanya rasa takut kehilangan pekerjaan yang dihadapi oleh karyawan yang sering memicu terjadinya kemarahan yang pada akhirnya akan mengganggu moral bekerja mereka, sehingga pihak manajemen perlu mengkomunikasikannya secara baik dan berterus terang atas apa yang sedang dihadapi perusahaa dan kenapa diambil langkah-langkah outsourcing.

Untuk menjaga terjadinya keresahan karyawan, pada beberapa proses outsourcing, beberapa perusahaan membuat langkah transisi untuk menolong karyawan, misalnya jauh sebelum outsourcing diputuskan maka secara rinci dikomunikasikan dalam beberapa pertemuan untuk staff di bagian IT, sehingga ketika outsourcing diberlakukan para staff mengerti benar betapa pentingnya keahlian dan teknologi baru bagi perusahaan, mereka di dorong untuk memperoleh keahlian baru dibawah inisiatif perusahaaan yang dikenal dengan moto ”Know IT Now or No It”.

Kunci utama dalam kesuksesan outsourcing adalah pemilihan vendor yang tepat (choose the right vendor) karena outsourcing merupakan kerjasama jangka panjang sehingga penunjukkan vendor yang tepat sebagai mitra perusahaan menjadi sangat krusial baik dari pertimbangan aspek teknologi, bisnis, maupun tujuan finansial.  Berdasarkan hal tersebut, perusahaan dituntut untuk dapat memahami dasar pertimbangan dalam pemilihan vendor. Faktor-faktor yang harus diperhatikan antar lain:

  • Pengetahuan/kemampuan dalam industri yang dibidanginya (Industry Knowledge)
  • Kemampuan teknis
  • Kemampuan keuangan
  • Kemampuan dalam menyampaikan infrastruktur jasa yang dikelolanya.

Sistem informasi adalah sebuah metoda yang terorganisasi yang mengolah dan menyajikan data dan informasi tentang masa lalu, saat ini dan proyeksi masa depan baik berkaitan dengan kegiatan internal organisasi maupun informasi keadaan yang berasal dari luar organisasi. Sistem informasi harus dapat mendukung perencanaan, pengendalian dan fungsi-fungsi operasional dari suatu organisasi dengan cara mengolah data dan informasi dimaksud dengan secara tepat dalam rangka mengerahkan pengambilan keputusan.

Karakteristik dari sistem informasi adalah kemampuan untuk menyajikan informasi saat ini dan prediksi masa depan. Sistem informasi harus merupakan sebuah sistem yang luas dan menyeluruh yang melibatkan semua fungsi-fungsi manajemen. Dimana sistem tersebut harus dapat beroperasi untuk menyediakan informasi secara terus menerus kepada manajemen, sehingga keputusan yang diambil tepat sasaran.

 

 

3.3         Pengembangan Sistem Informasi pada Perusahaan

Setiap perusahaan selalu melakukan pengembangan terhadap sistem informasinya. Ada 3 (tiga) alternatif yang dapat digunakan perusahaan dalam mengembangkan sistem informasi yang sedang atau akan dijalankan, yaitu :

1.      In-sourcing

In-sourcing adalah suatu model pengembangan dan dukungan dari sistem teknologi informasi yang dilakukan oleh para pekerja di suatu area fungsional dalam organisasi (misalnya Akunting, Keuangan, dan Produksi) dengan sedikit bantuan dari pihak spesialis sistem informasi atau tanpa sama sekali. Model ini dikenal juga dengan istilah end-user computing atau end-user development. Pengembangan ini dilakukan oleh para spesialis sistem informasi yang berada dalam departemen EDP (Electronic Data Processing), IT (Information Technology), atau IS (Information System). Pengembangan sistem umumnya dilakukan dengan menggunakan SDLC (Systems Development Life Cycle) atau daur hidup pengembangan sistem. Dengan menggunakan SDLC ini, organisasi akan mengikuti 6 langkah penting, yang mencakup berbagai tahapan berikut :

  1. Perencanaan, yaitu membentuk rencana pengembangan sistem informasi yang memenuhi rencana-rencana strategis dalam organisasi.
  2. Penentuan lingkup, yaitu menentukan lingkup sistem yang diusulkan untuk dibangun.
  3. Analisis, yaitu menentukan kebutuhan-kebutuhan sistem yang diusulkan.
  4. Desain, yaitu merancang sistem yang memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang diperoleh pada tahapan analisis.
  5. Implementasi, yaitu membuat sistem dan menyiapkan infrastruktur untuk sistem.
  6. Pemeliharaan, yaitu mendukung sistem yang telah berjalan.

Pendekatan SDLC biasa disebut sebagai pengembangan tradisional dan mempunyai kelemahan yakni pengembangannya lambat dan mahal. Selain itu, pemakai akhir kurang terlibat sehingga rawan terhadap ketidakcocokan dengan yang diinginkan oleh pemakai.

Kelebihan :

  • Sistem dapat diatur sesuai dengan kebutuhan dari perusahaan.
  • Sistem dapat diintegrasikan dengan lebih baik terhadap sistem yang sudah ada.
  • Dokumentasi menjadi lebih lengkap.
  • Proses pengembangan sistem dapat dikelola dan dikontrol oleh perusahaan.
  • User dalam perusahaan dapat mengendalikan pembuatan sistem.
  • Mengembangkan sistem sendiri dapat dijadikan sebagai keunggulan kompetitif perusahaan.

Kelemahan :

  • Membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mengembangkan sistem karena harus dimulai dari awal.
  • Adanya kemungkinan program mengandung bug yang sangat besar.
  • Terdapat kesulitan para user dalam menyatakan kebutuhan dan kesukaran pengembang memahami user dan seringkali hal tersebut membuat para pengembang merasa putus asa.
  • Memerlukan sumber daya manusia yang ahli dalam bidang sistem informasi dan teknologi informasi. Jika masih terbatas, maka sangat memerlukan diadakannya pelatihan.
  • Sistem buatan sendiri kurang efisien dan harganya cukup mahal.

 

2 .     Co-sourcing

Cosourcing dapat diartikan partnership dan didasarkan atas hubungan kerjasama jangka panjang.  Pelaksanaan strategi cosourcing oleh suatu perusahaan pada intinya disebabkan semakin meningkatnya kegiatan bisnis suatu perusahaan pada satu sisi dan adanya keterbatasan SDM internal dari segi kuantitas maupun knowledge untuk mengatasi secara baik (efektif dan efisien) meningkatnya kegiatan bisnis tersebut.

Strategi ini lebih terarah pada performa bisnis yang dilaksanakan setiap perusahaan. Trend globalisasi dan tantangan yang semakin besar pada lingkungan yang membutuhkan fleksibilitas, perkembangan berkelanjutan dan fokus kepada kompetensi inti perusahaan merupakan penyebab perusahaan memilih strategi cosourcing.

 

Kelebihan :

  • Adanya sharing knowledge antar organisasi.
  • Pengembangan sistem berada didalam pengawasan dan pengarahan perusahaan.
  • Kualitas sistem informasi yang dikembangkan dapat dikendalikan oleh perusahaan.
  • Lebih fokus pada pengembangan sistem informasi terhadap bentuk jenis bisnis.

Kelemahan

  • Rahasia perusahaan diketahui oleh pihak luar.
  • Keamanan sistem kurang terjamin.
  • Ada kemungkinan terjadinya pola pikir yang berbeda antara perusahaan dan partner dan berdampak pada perpecahan dalam tim tersebut.
  • Sulitnya melakukan modifikasi sistem karena ada dua pihak yang terkait dalam proses pembuatannya.
  • Sumber daya yang dimiliki perusahaan dapat berpindah ke perusahaan pesaing.

 

3.      Out-sourcing

Outsourcing berasal dari bahasa Inggris yang berarti “alih daya”. Outsourcing mempunyai nama lain yaitu “contracting out” merupakan sebuah pemindahan operasi dari satu perusahaan ke tempat lain. Hal ini biasanya dilakukan untuk memperkecil biaya produksi atau untuk memusatkan perhatian kepada hal lain.

Di negara-negara maju seperti Amerika & Eropa, pemanfaatan outsourcing sudah sedemikian mengglobal sehingga menjadi sarana perusahaan untuk lebih berkonsentrasi pada core businessnya sehingga lebih fokus pada keunggulan produk servicenya.

Pemanfaatan outsourcing sudah tidak dapat dihindari lagi oleh perusahaan di Indonesia. Berbagai manfaat dapat dipetik dari melakukan outsourcing; seperti penghematan biaya (cost saving), perusahaan bisa memfokuskan kepada kegiatan utamanya (core business), dan akses kepada sumber daya (resources) yang tidak dimiliki oleh perusahaan.

Salah satu kunci kesuksesan dari outsource adalah kesepakatan untuk membuat hubungan jangka panjang (long term relationship), tidak hanya kepada proyek jangka dekat. Alasannya sangat sederhana, yaitu outsourcer harus memahami proses bisnis dari perusahaan. Perusahaan juga akan menjadi sedikit tergantung kepada outsourcer. Namun ternyata hal ini tidak mudah dilakukan di Indonesia.  Terlebih-lebih lagi di Indonesia ada banyak masalah dalam menentukan partner outsourcing ini.

Dewasa ini terdapat pula kecenderungan untuk mengadakan sistem informasi melalui outsourcing. Bentuk outsourcing yang umum dilakukan pada perusahaan-perusahaan di Indonesia adalah dalam bidang layanan kebersihan ruangan. Dalam bidang teknologi informasi, beberapa bank di Indonesia telah menerapkan outsourcing. Dalam hal ini. pengembangan sistem dilakukan oleh perusahaan perangkat lunak. Pada prakteknya, outsourcing sistem informasi terkadang tidak hanya dalam hal pengembangan sistem, melainkan juga pada pengoperasiannya.

Berdasarkan pengertian outsourcing yang tercantum dalam UU No 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan yang menyatakan adanya suatu perjanjian kerja yang dibuat antara pengusaha dengan tenaga kerja dimana perusahaan tersebut dapat menyerahkan sebagian pelaksanaan pekerjaan kepada perusahaan lainnya melalui perjanjian pemborongan pekerjaan yang dibuat secara tertulis, dapat dikatakan bahwa outsourcing adalah pemindahan fungsi pengawasan dan pengelolaan suatu proses bisnis kepada perusahaan penyedia jasa. Melalui outsourcing, pada jangka waktu tertentu perusahaan dapat melepaskan penyediaan dan pengelolaan sistem informasi kepada pihak penyedia jasa. Terdapat tiga unsur penting dalam outsourcing, yaitu:

  1. Pemindahan fungsi pengawasan
  2. Pendelegasian tanggung jawab atau tugas suatu perusahaan
  3. Menitikberatkan pada hasil atau output yang ingin dicapai oleh perusahaan.

Sementara itu,  IT outsourcing merupakan pemanfaatan organisasi eksternal untuk memproduksi atau membuat ketetapan jasa teknologi informasi. Jasa IT yang biasanya di outsourcing adalah desktop, jaringan, aplikasi dan web hosting. IT Outsourcing dapat dikelompokkan menjadi 4, yaitu:

  1. Total Outsourcing, yaitu sepenuhnya menyerahkan semuanya ke pihak lain, baik hardware, software, dan brainware.
  2. Total Insourcing, peminjaman atau penyewaan sumber daya manusia yang dimiliki oleh pihak lain yang di pakai dalam jangka waktu tertentu.
  3. Selective Sourcing, perusahaan memilah-milah bagian mana yang akan di serah ke pada pihak lain, dan bagian yang tidak di berikan tersebut akan dikelola oleh perusahana sendiri.
  4. De facto insourcing, menyerahkan semua yang menyangkut IT ke perusahaan lain dikarenakan adanya latar belakang sejarah.

Perusahaan akan mencari cara untuk dapat meningkatkan daya saingnya, mengurangi biaya yang timbul dan juga resiko pekerjaan, sehingga perusahaan akan melakukan analisis internal untuk mengetahui pekerjaan apa yang dapat diserahkan ke pihak ketiga meskipun pengawasan dari perusahaan harus tetap ada.

Menurut O’Brien dan Marakas (2006), beberapa pertimbangan perusahaan untuk memilih strategi outsourcing sebagai alternatif dalam mengembangkan sistem informasi diantaranya:

  1. Biaya pengembangan sistem sangat tinggi.
  2. Resiko tidak kembalinya investasi yang dilkukan sangat tinggi.
  3. Ketidakpastian untuk mendapatkan sistem yang tepat sesuai dengan spesifikasi yang diinginkan.
  4. Faktor waktu/kecepatan.
  5. Proses pembelajaran pelaksana sistem informasi membutuhkan jangka waktu yang cukup lama.
  6. Tidak adanya jaminan loyalitas pekerja setelah bekerja cukup lama dan terampil

Sebagai contoh, sekolah harus memiliki database mengenai jumlah murid, jumlah guru dan karyawan, daftar perlengkapan sekolah, jadwal pelajaran, serta pembangunan website sekolah sebagai sarana informasi dan promosi kepada masyarakat. Sekolah dapat melakukan kontrak kerjasama dengan perusahaan IT yang bergerak dalam penyediaan sistem informasi database. Setelah melalui diskusi antar kedua belah pihak, perusahaan IT akan mengetahui kebutuhan dari klien dan menyiapkan database yang sesuai. Setelah, database tersebut diterima oleh pihak sekolah, perusahaan IT dapat melakukan uji coba sistem terlebih dahulu sebelum implementasi disekolah tersebut. Perusahaan IT kemudian berkewajiban untuk melakukan operasionalisasi dan memelihara sistem database yang telah dibangun sesuai dengan standar kerja yang telah disepakati sebelumnya.

Meskipun penggunaan outsourcing seringkali digunakan sebagai strategi kompetisi perusahaan untuk fokus pada core business-nya. Namun, pada prakteknya outsourcing didorong oleh keinginan perusahaan untuk menekan cost hingga serendah-rendahnya dan mendapatkan keuntungan berlipat ganda walaupun seringkali melanggar etika

 

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam outsourcing

  • Menentukan pengembang yang ditunjuk untuk membangun sistem informasi dengan hati-hati. Sebaiknya, pihak luar yang dipilih memang benar-benar telah berpengalaman
  • Menandatangani kontrak. Kontrak dimaksudkan sebagai pengikat tanggung jawab dan dapat dijadikan sebagai pegangan dalam melanjutkan atau menghentikan proyek jika terjadi masalah selama masa pengembangan
  • Merencanakan dan memonitor setiap langkah dalam pengembangan agar keberhasilan proyek benar-benar tercapai. Kontrol perlu diterapkan pada setiap aktivitas dengan maksud agar pemantauan dapat dilakukan dengan mudah
  • Menjaga komunikasi yang efektif antara personil dalam perusahaan dengan pihak pengembang dengan tujuan agar tidak terjadi konflik atau hambatan selama proyek berlangsung
  • Mengendalikan biaya dengan tepat dengan misalnya memperhatikan proporsi pembayaran berdasarkan persentasi tingkat penyelesaian proyek.

 

Kelebihan:

  • Perusahaan dapat berkonsentrasi pada bisnis yang ditangani
  • Dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kas dalam aset perusahaan karena tidak perlunya aset untuk teknologi informasi
  • Outsourcer yang telah ahli dibidang pengembangan sistem dapat memberikan jasa yang lebih berkualitas dibandingkan dikerjakan sendiri oleh pihak internal perusahaan.
  • Mendapatkan kepakaran yang lebih baik dan teknologi yang lebih maju
  • Lebih menghemat biaya dan mengurangi risiko kegagalan investasi yang mahal.
  • Waktu pengembangan lebih cepat
  • Menghilangkan penyediaan sarana saat beban puncak terjadi dan cukup melakukan pengeluaran biaya sesuai dengan tambahan layanan yang diberikan pihak luar.
  • Memfasilitasi downsizing sehingga perusahaan tidak perlu lagi memikirkan pengurangan pegawai.

 

Kelemahan :

  • Kehilangan kendali terhadap sistem dan data karena bisa saja pihak outsourcer menjual data ke pesaing.
  • Mengurangi keunggulan kompetitif karena pihak outsourcer tidak dapat diharapkan untuk menyediakannya karena outsourcer juga harus memikirkan klien lain.
  • Menjadi sangat tergantung pada pihak luar sehingga sangat sulit bagi perusahaan untuk mengambil alih kembali sistem yang sedang berjalan.
  • Proses pembelajaran pelaksana sistem informasi membutuhkan jangka waktu yang cukup lama.
  • Tidak adanya jaminan loyalitas pekerja setelah bekerja cukup lama dan terampil.
  • Jika terjadi gangguan pada sistem, maka perusahaan akan menanggung risiko keterlambatan penanganan karena kendali ada pada outsourcer yang harus dihubungi terlebih dahulu.
  • Jika kekuatan menawar ada pada outsourcer, maka perusahaan akan kehilangan kendali dalam memutuskan sesuatu apalagi terdapat konflik antara perusahaan dan outsourcer.

 

3.4     Kasus Implementasi Outsourcing di Indonesia

Praktek outsourcing di Indonesia Outsourcing sudah banyak dipraktekan di dunia bisnis di Indonesia. Sebenarnya ide dan konsep outsourcing sudah dimulai lama sekali, saat suatu organisasi telah meminta suatu group di luar organisasi untuk membantu pekerjaan yang tidak dapat diselesaikan secara internal. Penggunaan kata “outsourcing” sendiri sudah mulai dipakai sekitar tahun 1970 di dunia manufacturing. Sejak saat itu outsourcing mulai dikenal dan di implementasikan secara global. Satu sisi keberadaaan outsourcing akan sangat membantu pekerjaan perusahaan. Diluar negeri alasan utama melakukan outsourcing adalah untuk efisiensi biaya (yang artinya sebetulnya internal perusahaan memiliki kemampuan akan tetapi lebih mahal jika dikerjakan sendiri). Sedangkan di dalam negeri Alasan utama untuk melakukan outsourcing adalah karena tidak adanya sumber daya yang mampu mengerjakan. Kondisi ini terjadi banyak pada sektor IT. dimana beberapa perusahaan yang meng-outsource-kan komputer desktop-nya, karena trend IT yang terus berubah dan lifecycle product yang pendek Sektor perbankan misalnya dengan adanya kebijakan di dunia perbankan untuk menekan aset Bank. Banyak jasa outsourcer bermunculan misalnya, Industri car rental ; perusahaan tidak perlu dipusingkan oleh urusan transportasi dan services karena semuanya telah ditangani oleh Car rental yang telah menjadi bisnis rekanan perusahaan, industri security (keamanan) perusahaan tidak dipusingkan lagi dengan urusan keamanan dan system, industri penyewaaan alat-alat kantor dan foto copy dan yang paling fenomenal adalah industri yang bergerak dibidang IT (teknologi dan informasi) Outsourcing menjadi dewa penyelamat bagi banyak industri dan perusahan. Mengapa ? Dengan outsourcing terjadi peningkatan produktifitas dan efficiency perusahaan. Bagaimana caranya ? dari sisi budgeting (anggaran) perusahaan akan lebih focus padapengunaan alokasi budget mereka, dari sisi operational perusahaan akan lebih focus mengerjakan core business mereka saja, dari sisi keuangan (finance) akan terjadi kemudahaan dan penghematan karena perusahaan tidak perlu lagi mengeluarkan investasi peralatan yang tidak sesuai dengan core business, biaya perawatan (maintainance) dsb, dari sisi SDM (human resources) perusahaan tidak lagi dipusingkan oleh rekruitmen, pelatihan dan pengembangan, bahkan dengan mudah mem “PHK” kan buruh. Pendeknya outsourcing sangat menguntungkan perusahaan. Bagaimana dari sisi karyawan (buruh)?, apakah buruh juga diuntungkan seperti perusahaan? Dalam kondisi ini ternyata keuntungan buruh tidak sebanding dengan keuntungan perusahaan. Sehingga membicarakan outsourcing menjadi fenomena yang menarik dalam dunia bisnis. Sejak diundangkannya UU No.13/2003, outsourcing pekerja menjadi menjamur. Hal ini disebabkan pengusaha dalam rangka efisiensi merasa aman jika buruh yang dioutsource adalah buruhnya perusahaan jasa pekerja. Disisi yang lain teryata outsourcing mengundang permasalahan baru yakni legal issue dimana status dari pada karyawan kurang jelas. apakah ia karyawan dari perusahaan itu atau ia karyawan dari perusahaan outsourcing? dan yang selanjutnya kemana ia harus mengajukan keberatan atas tindakan yang dilakukan oleh si employer. Dalam kondisi ini jika ada masalah buruh akan menjadi bulan-bulanan antara si outsourcing company dan si perusahaan. Mengapa bisa begini ? Ada dua pandangan, pandangan pertama perusahaan merasa tidak bertangungjawab. Sehingga yang bertanggung jawab terhadap buruh outsource tadi adalah perusahaan jasa pekerja. Perusahaan-perusahaan ini merasa diback up oleh pasal 6 ayat 2 a yang menyatakan bahwa antara perusahaan jasa pekerja harus ada hubungan kerja dengan buruh yang ditempatkan pada perusahaan pengguna. Pandangan yang kedua pihak buruh yang dioutsource juga merasa diback up oleh pasal 1 butir 15 yang menyatakan bahwa hubungan kerjanya bukan dengan perusahaan jasa pekerja melainkan dengan perusahaan pengguna. contohnya adalah Cleaning Services, Satpam dan Pengemudi. Dalam mekanisme outsourcing ini pemborong penyedia tenaga kerja memasok tenaga kerja kepada perusahaan pemberi kerja berdasarkan kontrak penyediaan jasa tenaga kerja. Kemudian Cleaning Services, Satpam, Pengemudi bekerja di perusahaan tersebut bukan dengan penyedia jasa tenaga kerja. Yang memberi upah, pekerjaan dan perintah bukan dengan perusahaan jasa pekerja melainkan perusahaan pengguna Prof.Dr. Aloysius Uwiyono, SH.,MH menyebutkan kedua pasal ini juga menimbulkan ketidakpastian hukum bagi pengusaha dan buruh apalagi outsourcing pekerja pada saat ini lagi ngetren. Banyak perusahaan memutuskan hubungan kerjanya dengan buruhnya untuk selanjutnya direkrut kembali melalui perusahaan jasa pekerja (outsourcing pekerja). Hal ini berarti bahwa melalui pasal 6 ayat 2 a UU No.13/2003 Pemerintah melegalkan bukan sekedar perbudakan modern melainkan juga termasuk human-trafficking. Suatu pelanggaran hak asasi manusia.

Outsourcing dan kepentingan ekonomi

Dinegara-negara berkembang seperti Indonesia dimana pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah sedang gencar-gencarnya. Akan terjadi kondisi yang paradox, misalnya fokus pembangunan adalah untuk memperhatikan kesejahteraan masyarakat termasuk buruh. Tuntutan pemulihan ekonomi dari krisis multidimensional dan tuntutan peningkatan kesejahteraan buruh berjalan bersamaan. Difihak lain dengan alasan menarik investor untuk menanamkan investasinya dan mengatasi pengangguran, pemerintah akan membuat regulasi yang cenderung untuk memihak para pelaku bisnis kondisi ini sangat mempengaruhi perkembangan hukum perburuhan. akhirnya tren hukum perburuhan akan diarahkan keberpihakannya kepada pelaku bisnis bukan kepada pekerja/buruh semata-mata. Dengan alasan pertumbuhan ekonomi setinggi-tingginya akan mengarahkan hukum perburuhan untuk melindungi pemilik modal. Hal ini berarti bahwa buruh dikorbankan demi pertumbuhan ekonomi yang setinggi-tingginya. Kondisi ini akan mempengaruhi perkembangan hukum perburuhan, sehingga akan terjadi tarik menarik kepentingan dari kedua belah pihak. Pengusaha akan berusaha untuk tetap mempertahankan ketentuan yang mengatur Perjanjian Kerja Waktu Tertentu dan outsourcing, di lain pihak buruh akan berusaha agar ketentuan Perjanjian Kerja Waktu tertentu dan outsourcing dihapuskan. Kasus – kasus ini banyak kita lihat misalnya polemik penetapan upah minimum propinsi dimana Pengusaha akan berusaha menekan besarnya upah minimum, di lain pihak pekerja akan berusaha meningkatkan upah minimum., peraturan tenaga kerja dsb. Belum lagi persolan lain akibat outsourcing, misalnya kolusi atau demi mendapatkan komisi, perusahaan yang ditunjuk melaksanakan outsorce bukan berdasarkan keahlian, kompetensi atau yang memperhatikan hak-hak pekerja Alternatif Mengatasi Problem outsorcing Ada beberapa hal yang perlu menjadi perhatian dalam melakukan outsourcing, agar praktek yang terjadi tidak hanya menguntungkan outsourcing company dan perusahaan dan merugikan buruh. Pertama sebelum menggunakan/ memakai jasa penyedia tenaga kerja (outsourcing company) harus dilihat track recordnya, apakah hak-hak normatif buruh benar-benar diperhatikan ( dalam banyak kasus, gaji yang diberikan kepada buruh di potong lagi oleh outsourcing company, padahal outsourcing company telah mendapatkan komisi jasa dari perusahaan pengguna), atau tidak melanggar hak-asasi buruh. Kedua bagi perusahaan pengguna, pendekatan yang dilakukan sebaiknya pendekatan kemanusian bukan pendekatan undang-undang. Perusahaan harus menunjukkan kepeduliannya atas buruh outsourcing mereka dengan pelaksanaan program kesejahteraan dan kesehatan sehingga menciptakan perasaan aman dan ketenangan bagi karyawan di sebuah perusahaan. Ingat! Walaupun bukan karyawan tetap kehadiran mereka sangat penting, misalnya jika supir atau security atau frontliner yang bertugas tidak baik yang rugi tentu perusahaan itu sendiri. Ketiga perbaikan regulasi oleh pemerintah, apapun problemnya pemihakan kepada pemilik modal tanpa memperhatikan hak-hak normatif buruh tak dapat dibenarkan. Mengatasi pengangguran bukan dengan cara perbudakan. Keempat, Jadikan Serikat Buruh sebagai mitra, bukan lawan yang harus diawasi dan dicurigai. Dengan bermitra persoalan-persoalan yang ada disekitar buruh bisa didiskusikan dengan kepala dingin dan hati yang tenang.


BAB IV

PENUTUP

 

 

4.1         Kesimpulan

Keputusan yang diambil dalam penggunaan salah satu pendekatan untuk mengembangkan sistem informasi di suatu organisasi atau perusahaan bisnis yaitu outsourcing ataupun insourcing dan cosourcing tergantung pada kondisi perusahaan dengan memperhatikan beberapa aspek yaitu ketersediaan sumber daya manusia, ketersediaan dana dan kompleksitas sistem informasi yang dibutuhkan.

Terdapat kelebihan dan kekurangan pada sistem insourcing dan outsourcing dalam pengelolaan sistem informasi di perusahaan. Pemilihan sistem yang terbaik, baik itu insorcing atau outsourcing harus disesuaikan dengan kondisi perusahaan. Untuk perusahaan yang relatif kecil dengan jumlah karyawan yang terbatas sebaiknya menggunakan sistem oursourcing, sedangkan untuk perusahaan besar dengan cakupan bisnis yang luas serta jumlah karyawan yang banyak yang terbaik adalah menggunakan sistem insourcing.

 

4.2         Saran

Metode pendekatan outsourcing memiliki beberapa kelemahan seperti ketergantungan perusahaan pada vendor terutama pada sistem informasi yang utama bagi perusahaan apabila mengalami gangguan dan kelemahan akibat kontrak kerja bagi perusahaan.  Dalam hal ini, untuk mengantisipasi kelemahan dari pendekatan outsourcing, perusahaan harus memperhatikan 10 (sepuluh)  kunci sukses outsourcing menurut O’Brian sebelum menentukan dan menerapkannya dalam perusahaan. Selain itu, berhati-hati dalam memilih dan menentukan vendor juga merupakan salah satu faktor penting yang mendorong kesuksesan pelaksanaan outsourcing. Oleh karena itu, dalam pemilihan vendor juga harus memperhatikan faktor reputasi vendor, harga, ketentuan kontrak yang fleksibel bagi perusahaan, kesinambungan hubungan dan kemampuan dalam menghasilkan value added oleh vendor bagi perusahaan.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Dyah. 2007. Pengantar Sistem Informasi. http://blog.its.ac.id/dyah03tc/2007/10/24/pengantar-sistem-informasi/ diakses tanggal 30/01/14.

 

Deddy Sinaga. 2010. Operator Telekomunikasi Bidik Outsourcing. http://www.tempointeraktif.com. Diakses tanggal 30/01/14

 

Fahrur Rozi. 2012. Kelebihan dan Kekurangan Pengembangan Sistem Informasi.

http://stakinfo.blogspot.com/2012/03/kelebihan-dan-kekurangan-pengembangan.html. Diakses tanggal 30/01/14.

 

Ferry Tikos . 2010. Selfsourcing, Insourcing dan Outsourcing

http://ferry1002.blog.binusian.org/?p=128 http://www.tempointeraktif.com/hg/it/2010/04/12/brk,20100412-239645,id.html diakses tanggal 28/01/14

 

Jogiyanto. 2001. Analisis Dan Desain Sistem Informasi. Andi Offset, Yogyakarta.

http://enterpriseinnovation.net/article/benefits-it-insourcing, diakses tanggal 29/01/14.

 

http://ulyaanisatur.blogspot.com/2013/02/outsourcing-insourcing-dan-co-   sourcing.html, diakses tanggal 29/01/14

 

http://stakinfo.blogspot.com/2012/03/kelebihan-dan-kekurangan-pengembangan.html, diakses tanggal 29/01/14.

 

http://www.computerweekly.com/opinion/Moving-beyond-the-cost-benefits-of-outsourcing, diakses tanggal 29/01/14.

 

http://oktadymalik.multiply.com diakses tanggal 04/02/14.

 

http://www.maestroglobal.info/effisiensi-dan-penghematan-biaya-melalui-it-utsourcing/comment-page-1/#comment-84diakses tanggal 04/02/14.

 

http://www.malangnet.wordpress.com/Seputar-Tentang-Tenaga-Outsourcing/ diakses tanggal 29/01/14.

 

http://marina.blogstudent.mb.ipb.ac.id/2010/12/03/kelebihan-dan-kekurangan-penerapan-outsourcing-di-bidang-sistem-informasi/ diakses tanggal 27/01/14.

 

McLeod, R. 1983. Manajemen Information System (2nd Ed.). Chicago. Science Reseaerch Associates Inc.

O’Brien, J and Marakas, G. 2008. Management Information System. 8 th edition. Mc.Graw Hill International Edition.

 

O’Brien. J. 2005. Pengantar Sistem Informasi Perspektif Bisnis dan Manajerial. Edisi 12. Salemba Empat. Jakarta.

 

O’Brien, J.A. & Marakas, G.M. (2006). Introduction to Information Systems, 7th Ed., McGraw-Hill/Irwin. New York.

 

Raharjo. B. 2002. Memahami Teknologi Informasi. PT. Elex Media Komputindo. Jakarta.

 

Sidharta. L. 1995. Pengantar Sistem Informasi Bisnis. PT. Gramedia. Jakarta

 

Situs Wikipedia, http://en.wikipedia.org (diakses tanggal 09 September 2013) http://marina.blogstudent.mb.ipb.ac.id/2010/12/03/kelebihan-dan-kekurangan-penerapan-outsourcing-insourcing-dan-cosourcing-di-bidang-sistem-informasi/ diakses tanggal 29/01/14.

 

Sutabri T, 2005. Sistem Informasi Manajemen. Penerbit Andi, Yogyakarta. Pak Pid. 2010. Selfsourcing, Insourcing dan Outsourcing.   http://pakpid.wordpress.com/2010/01/05/self-sourcing-in-sourcing-and-out-sourcingdiakses tanggal 28/01/14.

 

Tyo. 2014. Metode Pengembangan Sistem Informasi Perusahaan.

http://tyomulyawan.wordpress.com/2014/01/02/metode-pengembangan-sistem-informasi-perusahaan-insourcing-outsourcing-co-sourcing/ diakses tanggal 30/01/14.

Skip to toolbar